Tampilkan postingan dengan label Gangguan Tidur Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gangguan Tidur Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Juni 2010

Laki-laki dan Orang yang Obesitas Sering Mendengkur

Jika dibandingkan perempuan, kaum laki-laki seringkali mengalami mendengkur atau ngorok. Tak hanya mereka, orang yang mengalami obesitas serta orang yang mempunyai lingkar leher pendek pun sering mendengkur. Bahkan tak sedikit anak kecil yang juga tidur sambil ngorok.

Kepala Sub Bagian Laring-Faring RS Hasan Sadikin dr Sinta Sari SpTHT-KL menjelaskan secara fisik laki-laki sering mengalami masalah dengkur. Namun, Sinta mengaku tak mengetahui persis penyebabnya. "Tapi dibandingkan dengan perempuan, laki-laki lebih banyak yang mengalami masalah dengkur," kata dia saat ditemui di Klinik dengkur atau Klinik Snoring yang baru saja diresmikan oleh salah seorang direktur RSHS Rizal Haidir, mewakili Dirut RSHS Cissy S Prawira, Kamis (16/10/2008).

Orang yang mengalami obesitas dan orang yang mempunyai leher pendek pun gampang mendengkur. "Jangan salah, tak sedikit anak-anak pun suka mendengkur. Hal itu dikarenakan kelenjar adenoid yang berada di belakang tulang hidung yang berfungsi untuk mengeluarkan antibodi akan membesar jika terserang infeksi, nah makanya mendengkur," kata Sinta.

Dia menjelaskan untuk mengobati masalah snoring atau mendengkur ini, bisa dilakukan dengan operasi dan non operasi.

Sebelumnya Sinta mengatakan mendengkur bisa menyebabkan seseorang kena serangan jantung, hipertensi, gangguan saraf dan impotensi.(Andrian Fauzi - detikBandung, edited)

Minggu, 20 Juni 2010

Mendengkur


Deskripsi

Mendengkur, seperti semua suara lainnya, disebabkan oleh getaran yang menyebabkan partikel-partikel di udara untuk membentuk gelombang suara. Sebagai contoh, ketika kita berbicara, pita suara kita bergetar untuk membentuk suara kita. Ketika perut kita keroncongan (borborygmus), lambung dan usus kita bergetar seperti udara dan makanan bergerak melalui mereka.

Sementara kita tidur, turbulen aliran udara yang dapat menyebabkan jaringan hidung dan tenggorokan bergetar dan menimbulkan mendengkur. Pada dasarnya, mendengkur adalah suara yang dihasilkan dari turbulen aliran udara yang menyebabkan jaringan bergetar saat tidur.

Tanda

Mendengkur

Perawatan

Pengobatan dengan operasi mungkin sulit untuk ditentukan. Masalah mendengkur biasanya adalah masalah bagi pasangan atau tempat tidur sekamar. Oleh karena itu, perawatan yang berhasil juga harus mencakup tujuan mencapai sukses tidur malam untuk tidur pasangan atau teman sekamar.Hal ini membuat perawatan mendengkur menjadi tantangan yang sulit. Jika pasangan tempat tidur mereka bisa menerima, maka masalah mendengkur tak jadi masalah.

Sumber: medlineplus dan medicinet.-detikhealth

Jumat, 18 Juni 2010

Gangguan Tidur Dapat Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak


Gangguan tidur ternyata bisa menyerang anak-anak. Gangguan yang dialami bukan hanya tidak bisa tidur, melainkan adanya masalah seperti sering mengalami mimpi buruk.

Sebaiknya kenali masalahnya, karena jika dibiarkan bisa mengganggu perkembangan anak. "Anak saya selalu rewel setiap malam, tidak bisa tidur, tapi enggak tahu penyebabnya," cerita Ira Handayani yang memiliki anak berusia enam bulan dengan gangguan tidur.

Masalah yang dialami Ira ternyata dialami beberapa ibu lainnya. Setiap orang mengalami waktu tidur yang berbeda-beda, dan berapa lama waktu tidur bergantung pada usia seseorang. Bayi misalnya. Seorang bayi yang baru lahir hingga usia tiga bulan akan memerlukan waktu tidur hampir seharian lamanya, sekitar 20 jam per hari.

Sementara itu, anak-anak akan memerlukan waktu tidur selama 8–14 jam, bergantung pada usia anak tersebut. Sama halnya dengan waktu tidur, gangguan tidur yang dialami orang pun berbeda-beda.

Saat anak tertidur dan terbangun pada malam hari, memang sudah menjadi hal yang biasa. Namun, yang harus diperhatikan adalah seperti apa gangguan tersebut menyerang.

Dokter ahli RPSGT (Registered Polysomnographic Technologist) dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Dr Andreas A Prasaja atau yang akrab disapa Dr Ade, mengatakan bahwa gangguan tidur harus dipahami. Artinya, gangguan tersebut bukan hanya tidak bisa tidur saja. "Banyak gangguan tidur lain yang justru menyebabkan anak mengantuk," ungkap dokter lulusan Universitas Atma Jaya pada 2002 ini.

Dr Ade menuturkan, gangguan tidur pada anak lainnya yakni Sindrom kematian mendadak pada bayi, yaitu sudden infant death syndrome (SIDS), ada pula sleep apnea, henti napas saat tidur, anak menolak untuk tidur, atau sleep walking (berjalan sambil tidur), night terrors sampai mengompol.

"Semua gangguan tidur disebabkan faktor yang berbeda-beda," ujar dokter yang mengambil pendidikan Sleep Medicine & Technology Sydney University di Australia ini. Dr Ade menjelaskan, SIDS tidak diketahui pasti penyebabnya, tetapi bisa dikenali tandanya, yakni turunnya tekanan darah hingga melambatnya denyut jantung bahkan bisa sampai berhenti.

Faktor-faktor risiko timbulnya gangguan jenis ini di antaranya adalah ibu yang merokok, bayi prematur, riwayat kelainan jantung pada keluarga, dan tidur telungkup dengan mulut-hidung tertutup.

"Gangguan tidur jenis ini bisa dicegah dengan menghindari rokok selama kehamilan dan setelah melahirkan lalu membiasakan bayi untuk tidur telentang. Sebaiknya jangan biarkan selimut, boneka, atau bantal menghalangi hidung dan mulut bayi saat tidur," tandas dokter pertama di Indonesia yang mengambil bidang ini.

Dikatakan Dr ade, anak usia sekolah sering kali menolak untuk tidur karena ingin menonton film di televisi, permainan, atau bahkan pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai. Sementara itu, anak balita lebih sering menolak tidur karena masih ingin bermain.

"Jadi, dengan kebiasaan tidur yang baik, anak-anak akan terbiasa untuk mengenali waktu untuk tidur," sarannya. Ada pula gangguan tidur sleep walking, yaitu ngelindur atau mengigau bahkan berjalan dalam tidur. Dr Ade mengatakan bahwa sleep walking terjadi saat anak akan tidur.

"Walaupun penyebab pasti belum diketahui, kita tahu bahwa sleep walking bisa dipicu oleh excitement sebelum tidur dan kondisi kurang tidur," tutur dokter yang menerbitkan buku berjudul "Ayo Bangun! Dengan Bugar karena Tidur yang Benar".
Sleep walking biasanya terjadi dalam dua jam awal tidur, saat utang tidur masih menumpuk tinggi. Ini sebabnya penanganan utama sleep walking adalah dengan mencukupi kebutuhan tidur anak.

Selain itu, ada pula gangguan tidur night terrors dan pavor nocturnus, merupakan gangguan tidur yang menakutkan dam sering menyerang anak usia prasekolah. Saat tidur, anak dapat tiba-tiba menangis dengan histeris. Terkadang dia sampai terduduk dan memfokuskan pandangan pada satu sudut.

Salah satu ciri khas gangguan tersebut adalah si anak tidak merespons belaian orangtua untuk menenangkan, malah menangisnya bertambah keras. Setelah beberapa waktu, dia akan terdiam dan kembali tidur, atau terbangun dengan pandangan bingung karena tidak tahu apa yang terjadi.

"Kondisi ini akan berkurang dan akhirnya akan hilang sendiri. Yang terpenting bagi orangtua, adalah untuk menjaga anak jangan sampai menyakiti dirinya sendiri, dan menenangkannya jika ia terbangun. Pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang baru terjadi, hanya akan membingungkannya," jelasnya.

Selanjutnya, gangguan tidur epilepsi, merupakan serangan epilepsi yang memang terjadi pada saat tidur. Anak akan mengalami serangan kejang saat tidur. Pengobatan yang dilakukan sama layaknya penanganan epilepsi. Sementara itu, sleepapnea terjadi karena penyempitan saluran napas di bagian atas. Terhadap anak, biasanya hal ini disebabkan pembengkakan amandel yang dialami anak.(okezone.com)

Rabu, 16 Juni 2010

Parasomnia

Parasomnia adalah mimpi yang hidup dan aktivitas fisik yang terjadi selama tidur.

Sejumlah gerakan diluar kesadaran dan tidak dapat diingat kembali, bisa terjadi selama tidur. Hal ini lebih sering terjadi pada anak-anak.

Sesaat sebelum tidur, hampir semua orang kadang mengalami sentakan tunggal, singkat dan diluar kesadaran pada seluruh tubuh.
Kadang mereka juga mengalami kelumpuhan tidur atau halusinasi ringan.

Selama tidur, secara normal orang kadang mengalami sentakan kaki; orang dewasa bisa mengalami gerakan periodik, mimpi buruk dan giginya mengatup dengan kuat.
Berjalan dalam keadaan tidur, teror malam dan mimpi buruk sering terjadi pada anak-anak dan membuat mereka ketakutan.
Kejang epileptik bisa terjadi pada usia berapa saja.

Akatisia (kaki yang tidak bisa diam) merupakan kelainan yang relatif sering ditemukan, yang sering terjadi sesaat sebelum tertidur, terutama pada usia diatas 50 tahun.
Penderita akatisia, terutama ketika sedang mengalami stres, merasakan sensasi tidak nyaman yang samar-samar pada tungkainya, yang disertai dengan gerakan kaki spontan dan tak terkendali.

Penyebabnya tidak diketahui.

Benzodiazepin yang diminum sebelum tidur, kadang bisa mengurangi gejala yang terjadi.

Teror malam merupakan episode menakutkan, dimana penderita menjerit, memukul dan seringkali berjalan dalam tidurnya.
Episode ini biasanya timbul selama fase tidur non-REM.
Pemberian benzodiazepin (misalnya diazepam) bisa membantu meringankan gejala.

Mimpi buruk merupakan mimpi nyata yang menakutkan, yang bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa. Setelah mimpi, biasanya penderita akan terbangun secara tiba-tiba.
Mimpi buruk terjadi selama tidur REM dan lebih sering terjadi pada saat penderita mengalami stres, demam atau kelelahan yang luar biasa atau setelah minum alkohol.
Tidak ada pengobatan khusus.

Somnambulisme (berjalan sambil tidur) adalah berjalan dalam keadaan setengah sadar dan diluar kesadaran penderita.
Hal ini paling sering terjadi pada masa akhir kanak-kanak dan remaja.
Ketika berjalan sambil tidur, mulut penderita bergumam dan jika berjalan ke daerah yang berbahaya bisa mencelakakan dirinya.

Sebagian besar penderita tidak dapat mengingat bahwa dirinya pernah berjalan sambil tidur.

Penderita sebaiknya dituntun kembali ke tempat tidur dan lampu kamar tidur atau ruangan di sekitarnya sebaiknya dibiarkan menyala untuk mengurangi kecenderungan berjalan sambil tidur.

Membangungkan penderita dengan paksa bisa menimbulkan reaksi kemarahan dan sebaiknya hal ini tidak dilakukan.

Benda-benda yang berbahaya atau mudah pecah sebaiknya dijauhkan dari penderita dan jendela harus selalu tertutup dan terkunci.(medicastore)

Jumat, 11 Juni 2010

Anak yang Kurang Tidur, Tubuhnya akan Lebih Pendek


HARI itu raut muka Linda terlihat sembab. Lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas kelelahan di wajahnya. Meski berusaha tampil bersemangat, namun akhirnya ibu satu anak ini hanya bisa bersandar di kursi kerjanya.

Saya kurang tidur, semalaman bayi saya terus terbangun. Ada saja yang membuatnya bangun, ujar Linda yang baru saja masuk kantor setelah cuti melahirkan tiga bulan lalu.

Dia mengaku tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar anak kesayangannya bisa tidur nyenyak. Pasalnya, bukan hanya Linda yang tidak bisa istrihat, sang suami yang harus bekerja pun harus mengalami nasib yang sama.

Hal yang sama juga dialami Nia, yang mengaku kerepotan mengajak dua anak kembarnya tidur. Wanita yang bekerja di sebuah instansi pemerintahan ini, butuh waktu berjam-jam untuk membuat anak-anaknya tertidur. Kalau malam, selalu saja ada yang bangun. Ada yang nangis, ada yang minta susu. Waduh pokoknya repot banget deh, tuturnya.

Mungkin Linda dan Nia hanya potret segelintir ibu pekerja yang kekurangan jam istirahat karena anaknya mengalami gangguan tidur. Padahal, tidur anak memiliki peranan terpenting dalam tumbuh-kembang anak.

DOKTER Rini Sekartini, SpAK mengungkapkan tidur memiliki peranan penting dalam pertumbuhan anak karena pada saat tidur terjadi proses pengeluaran hormon pertumbuhan. Anak yang memiliki gangguan tidur otomatis akan terganggu pertumbuhannya, misalnya tubuh lebih pendek daripada anak yang tidurnya cukup, jelasnya.

Selain itu, ganguan tidur juga dapat mempengaruhi sistem imunitas anak, perkembangan fungsi hormon, metabolisme tubuh, sistem jantung dan pembuluh darah, serta proses belajar dan daya ingat. Kualitas tidur anak berpengaruh terhadap memori dan daya tangkap anak saat belajar, tambah dr Rini.

Sayangnya, lanjut dr Rini, hal ini kerap luput dari perhatian orang tua. Berdasarkan penelitian yang ditujukan pada orang tua di lima kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Medan, Palembang, dan Batam terungkap 72,2 persen orang tua menganggap masalah tidur pada bayi dan Balita hanya merupakan masalah kecil.

Berdasarkan penelitian yang sama juga terungkap bahwa 44 persen bayi dan Balita di Indonesia mengalami gangguan tidur. Di antaranya sering terbangun di malam hari dan jumlah jam tidur kurang yang dari normal.

Masalah gangguan tidur pada anak juga terjadi di negara-negara lain seperti di Swiss, sebanyak 20 persen anak usia tiga tahun terbangun setiap malam. Sedangkan di Amerika, 84 persen anak usia 1-3 tahun mempunyai masalah tidur yakni sulit untuk tidur atau terbangun pada malam hari pada anak usia tiga tahun. Sementara di China 23,5 persen anak usia 2-6 tahun mempunyai masalah tidur yang dilaporkan orang tua.

Perkembangan pola tidur normal, lanjut dr Rini, adalah dimana masa tidur siang anak akan berkurang sejalan dengan bertambahnya umur. Anak usia di atas empat tahun sebenarnya tidak perlu tidur siang. Yang penting, pada malam hari anak bisa tidur 12 jam, jelasnya.

DOKTER Rini menjelaskan total waktu tidur yang dibutuhkan bayi usia 0-3 bulan mencapai 16-20 jam. Biasanya dalam setiap 1-4 jam diikuti 1-2 jam bangun. Pada masa ini jumlah jam tidur siang sama dengan tidur malam. Gangguan tidur pada masa ini hanya disebabkan trauma lahir dan periode tidur yang lebih pendek pada bayi yang minum ASI.

Sedangkan anak yang usianya 3-12 bulan membutuhkan 14-15 jam tidur dalam satu hari. Khusus untuk anak usia 4 bulan total waktu yang dibutuhkan untuk tidur sebanyak 13-14 jam, dan pada usia 6 bulan butuh 11 jam untuk tidur pada malam hari dan 2-3 jam pada siang hari.

Menginjak usia 1-3 tahun anak membutuhkan total 12-14 jam waktu tidur. Anak yang terbangun pada malam hari, umumnya disebabkan rutinitas dan rasa takut. Pada usia ini, anak juga kerap mengalami gangguan di awal tidur atau menolak diajak untuk tidur.

Saat anak anda terbangun di malam hari, anda harus bisa lebih peka mengenali apa yang membuatnya tidak nyaman. Faktor fisik akan lebih mudah dikenali dengan mengamati apakah anak lapar atau terjadi kelainan pada gigi, telinga, kulit, saluran cerna, saluran nafas, saluran kemih, otot dan tulang.

Sementara gangguan tidur yang disebabkan faktor psikis dapat anda amati dari perkembangan anak, pola asuh, kualitas attachment/bounding, temperamen, dan aktivitas anak pada siang hari.

Jika gangguan ini terjadi pada anak, maka kualitas dan kuantitas tidur anak akan berkurang. Hal ini bisa terlihat dari jumlah jam tidurnya yang kurang dari normal, sulit memulai tidur, sering terbangun pada malam hari, bila terbangun susah tertidur kembali, dan selama tidur anak menjadi rewel, sering menangis, menjerit, ketakutan, menggesekkan gigi, serta mengorok.

Setiap orang tua pasti tidak menginginkan anaknya mengalami ganguan tidur, karena ganguan tidur pada anak juga berdampak pada gangguan keluarga. Di antaranya, meningkatkan stres orang tua, depresi ibu, orang tua atau pengasuh tidak akan bisa menikmati tidur cukup.

NAMUN, bagi para orang tua yang anaknya mengalami gangguan tidur saat ini tidak perlu putus asa. Banyak cara yang bisa ditempuh agar anak anda bisa tidur nyenyak. Langkah ini harus diawali dengan pengetahuan untuk mengetahui gangguan tidur apa yang terjadi pada anak anda.

Dr Rini menguraikan beberapa tahapan untuk mengatasi masalah tidur, jika gangguan yang terjadi pada fisik anak anda berarti anda harus mengatasi dengan melakukan pengobatan misalnya pada gigi, telinga, kulit, saluran cerna, saluran nafas, saluran kemih, otot, dan tulang.

Namun, jika masalah yang terjadi pada anak adalah gangguan psikis berarti anda harus dapat memperbaiki pola asuh yakni dengan meningkatkan kualitas attachment/bounding, kenali temperamen, serta kurangi aktivitas menjelang tidur.

Jangan biarkan anak bermain yang mengakibatkan rasa lelah berlebih menjelang tidur karena bisa menyebabkan anak sulit tidur. Tayangan televisi yang menyeramkan pun sebaiknya tidak diperlihatkan pada anak untuk menghindari mimpi buruk, papar dr Rini.

Faktor lingkungan adalah bagian yang tak kalah pentingnya dalam mengatasi gangguan tidur pada anak. Misalnya, tidak menempatkan televisi, radio, dan mainan berada di kamar tempat tidur anak, dan hindari minuman coklat atau kopi sebelum tidur, makan dan minum diusahakan 1-2 jam sebelum tidur, dan saat waktu tidur bentuk suasana misalnya pada malam hari biarkan gelap agar anak bisa membedakan waktu malam dan siang hari.

Gangguan tidur anak kerap terjadi pada anak yang orang tuanya bekerja. Terutama anak yang masih tidur satu tempat tidur dengan orang tuanya. Di sinilah, dr Rini mengingatkan pentingnya untuk melatih anak-anak untuk bisa belajar mandiri dengan tidur sendiri di kamarnya. Menyapih anak untuk tidur di kamarnya sendiri tidak kalah pentingnya dengan menyapih anak untuk tidak lagi minum ASI, tambah dr Rini.

Untuk membuat anak tidur lebih baik salah satu langkah yang disarankan adalah dengan memandikan anak dengan air hangat pada sore hari, memijatnya, dan membacakan dongeng atau buku sehingga anak lebih mudah tertidur.

Jadi, jika ingin buah hati anda tumbuh menjadi anak yang pintar dengan tubuh tinggi serta kesehatannya selalu terjaga, ternyata bukan hanya asupan makanan bergizi yang harus anda perhatikan tapi juga pola tidur anak anda.(elly anisyah- www.hupelita.com)

Bayi dan Anak Juga Dapat Mengalami Gangguan Tidur?


Ya, bayi dan anak juga dapat mengalami gangguan tidur. Dan Masalah tidur pada anak-anak lebih mudah untuk dicegah daripada diobati. Tapi bila hal tersebut sudah terjadi pada anak anda, jangan kuatir, penanganan masalah ini adalah dengan kesabaran dan ketekunan.

Apakah anak anda mengalami gangguan tidur?

Mengetahui apakah anak anda mengalami gangguan tidur? Sebelumnya kita perlu mengetahui bahwa lamanya waktu tidur tergantung dari usia bayi atau anak anda. Seorang bayi yang baru lahir sampai kurang lebih usia 3 bulan akan memerlukan waktu untuk tidur hampir seharian (> 20 jam/hari). Anak-anak akan memerlukan waktu untuk tidur selama 8-14 jam tergantung dari usia anak tersebut. Tapi tentu saja hal ini berbeda-beda tergantung juga dari anak yang bersangkutan

Anda sebaiknya mulai melihat bahwa bayi anda mempunyai masalah tidur, bila bayi anda:
  • Terbangun hampir setiap malam;
  • Mempunyai jam tidur yang hampir sama dengan anda;
  • Tidur terus pada siang hari ;
  • Atau mempunyai temperamen yang buruk karena kurang tidur pada malam harinya.

Jadi apakah bayi atau anak anda mempunyai gejala diatas----jangan berkecil hati selalu ada jalan mengatasi semuanya.

(sumber :Dr.Suririnah-www.InfoIbu.com)

Tidur Nyenyak Penting bagi Pertumbuhan Anak

Jangan sepelekan kebutuhan tidur anak. Karena, saat tidur pertumbuhan otak balita (bayi di bawah lima tahun) mencapai puncaknya. Otak juga mengonsolidasi segala memori dan pengetahuan baru. Tak hanya itu, otot, kulit, sistem jatung dan pembuluh darah, metabolisme tubuh, dan tulang mengalami pertumbuhan pesat saat tidur. Hal itu disebabkan tubuh balita memproduksi hormon pertumbuhan tiga kali lebih banyak dibandingkan ketika dia terbangun.

"Namun sayang, banyak orangtua yang belum menyadari bahwa tidur berkualitas merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan balitanya," kata dokter sepesialis anak yang juga Konsultan Tumbuh Kembang Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jakarta, Rini Sekartini dalam acara media gathering yang membahas seputar rahasia tidur nyenyak bayi, di Jakarta, belum lama ini.

Merujuk satu penelitian Sekartini dkk pada 2004-2005 di lima kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Medan, Palembang dan Batam), Rini mengungkapkan, sebanyak 72,2 persen orangtua menganggap masalah tidur pada balita bukan masalah atau hanya merupakan masalah kecil.

Penelitian yang sama juga mengungkapkan, ada sekitar 44 persen balita yang mengalami gangguan tidur seperti sering terbangun di malam hari dan kurang tidur. "Bayi dikatakan mengalami gangguan tidur jika pada malam hari tidurnya kurang dari 9 jam, terbangun lebih dari 3 kali dan lama terbangunnya lebih dari 1 jam. Selama tidur bayi terlihat selalu rewel, menangis dan sulit jatuh tidur kembali," tutur Rini.

Masalah gangguan tidur tak hanya terjadi di Indonesia. Dr Rini memamparkan hasil penelitian di sejumlah negara, antara lain, di Beijing, China dikatakan 23,5 persem anak usia 2-6 tahun mempunyai gangguan tidur. Di Swiss, ada 20 persen anak usia 3 tahun terbangun setiap malam. Sedangkan di Amerika, sebanyak 84 persen anak usia 1-3 tahun menderita gangguan tidur yang menetap (sulit untuk tidur pada waktu malam/terbangun pada malam hari).

Besaran jumlah jam tidur anak, disesuaikan dengan tingkatan umurnya. Bayi baru lahir biasanya tidur selama 16-20 jam per hari, bayi usia 2-12 bulan jumlah waktu tidurnya mencapai 9-12 jam pada malam hari dengan tidur siang 1-4 kali sehari.

Sedangkan anak usia 12 bulan-3 tahun, biasanya tidur 12-13 jam sehari dengan rata-rata tidur siang satu kali saja. Kalau anak sudah berusia di atas 4 tahun, seorang anak dapat tidak membutuhkan tidur siang lagi.

Rini menyebut beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas tidur anak di malam hari. Faktor pertama terkait dengan masalah fisik seperti rasa lapar dan haus serta adanya gangguan pada gigi, telinga, kulit, saluran cerna, saluran napas, saluran kemih, otot atau tulangnya.

"Makanan dan minuman juga berpengaruh. Bayi lebih gampang tidur dalam keadaan kenyang. Dan jenis makanan atau minuman tertentu, konsumsi obat-obatan tertentu seperti obat asma juga mempengaruhi tidur balita," ujarnya.

Faktor lainnya adalah masalah psikis, yang terkait dengan tahapan perkembangan anak, pola asuh, temperamen, aktifitas dan faktor lingkungan. "Ada kebiasaan tidur di Indonesia yang tidur satu ranjang anak dengan orangtuanya. Sebaiknya pisahkan bayi sejak kecil ketika mau tidur, sehingga ketika orangtuanya "bergeser" sedikit saja anak langsung rewel," katanya.

Tidur Dalam

Untuk mendapat tidur berkualitas, menurut Rini, balita harus dapat melewati dua tahapan tidur, yaitu "tidur dalam" atau istilahnya fase tidur nonrapid eye movement (non-REM) dan "tidur aktif" atau yang biasa disebut tidur REM.

Pada tahapan "tidur dalam" aktivitas otak regular masih terus berjalan. Fase ini berperan penting dalam perbaikan sel-sel tubuh dan produksi hormon pertumbuhan yang maksimal sekitar 75 persen. Sedangkan fase tidur aktif ditandai dengan adanya gerakan bola mata yang sangat cepat, detak jantung dan pernapasan yang terus meningkat dan tidak stabil dengan sering kali disertai mimpi.

"Pada tahapan ini metabolisme otak berada pada tingkat paling tinggi sehingga berpengaruh pada restorasi atau pemulihan emosi dan kognitif bayi dan batita," ucapnya.

Tahapan tidur REM dan non-REM terjadi bergantian dan membentuk suatu siklus tidur. Proporsi tidur REM pada awal bayi baru lahir adalah sebanyak 50 persen dan akan terus berkurang seiring dengan pertambahan usia bayi. Pada akhirnya hanya akan menjadi 20 persen saja dari keseluruhan siklus tidur. Pada anak lebih besar didominasi dengan fase tidur non-REM.

Ia menyebut ciri-ciri balita cukup tidur, yaitu, ia akan dapat jatuh tertidur dengan mudah di malam hari, terbangun dengan mudah dan tidak memerlukan tidur siang yang melebihi kebutuhan sesuai dengan perkembangannya.

"Tidur pagi dan siang berkaitan erat dengan lamanya atensi dan cepatnya proses pembelajaran. Pada anak usia 3 tahun, anak yang tidur siang akan memiliki kemampuan lebih adaptif atau mudah menyesuaikan diri. Hal itu penting untuk proses keberhasilan di sekolah," katanya.

Jika anak yang kurang tidur pada malam hari, lanjut Rini, akan mengantuk pada siang hari. Hal itu akan mengganggu proses kreatifitasnya selama terbangun. Untuk menanggulangi masalah tidur, orangtua perlu memperhatikan kondisi fisik balitanya. Kalau ada masalah atasi segera. Penting juga untuk kurangi aktifitas fisik pada sore-malam agar anak tak sering kaget saat tidur di malam hari.

Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan kondisi psikis anak dengan memperbaiki pola asuh, kualitas sentuhan, dan kenali temperamennya serta faktor lingkungan harus mendukung. Karena tidur merupakan perilaku yang dipelajari yang dapat dibentuk melalui rutinitas dan kebiasaan tidur yang baik.

"Paling ideal kebiasaan tidur nyenyak itu dimulai sejak anak berusia 3-6 bulan. Jika lebih dari 6 bulan bayi juga masih belum menemukan pola tidur yang teratur, maka ini perlu diwaspadai. Karena hal itu bisa berarti adanya gangguan tidur yang dialaminya," kata Rini menegaskan.

Dampak masalah kurang tidur pada balita, untuk fisik adalah gangguan pertumbuhan badannya karena pengeluaran hormon selama tidur menjadi "kacau", kerentanan fungsi imun atau daya tahan tubuh, iregulasi sistem endokrin, kegemukan dan mengantuk.

Sedangkan untuk masalah kognitif, adalah anak jadi kehilangan konsentrasi, lambat, kurang waspada, kurang perhatian, gangguan pembelajaran hingga prestasi akademik yang menurun. Pada kemampuan geraknya, anak menjadi kurang cermat dan ceroboh.

"Terganggunya tidur si kecil otomatis akan mengganggu kualitas tidur orangtua, sehingga berpotensi menimbulkan keletihan, bahkan stress pada orangtua," kata Rini menambahkan.

Berdasarkan penelitian klinis terdapat tiga langkah yang dapat membantu balita tidur lebih nyenyak yaitu dengan memandikan balita dengan air hangat, memijat lembut balita dan melakukan aktivitas tenang seperti membaca dongeng, meninabobokan atau memperdengarkan musik tenang sebelum menidurkan balita.

"Jadi tak ada alasan lagi bagi orangtua yang mengaku kesulitan menidurkan anaknya. Bukan saja anak yang senang, tetapi juga orangtua. Orangtua juga bisa tampil lebih segar, karena cukup tidur," kata Lita. (Tri Wahyuni)

Sumber: Suarakarya.com-edited
Related Posts with Thumbnails